PT Tri Abadi Mandiri

Kedok Investasi, Dana Rp 817 M Raib

VIVAnews– Kepolisian Daerah (Polda) Kalimantan Selatan, sejak Sabtu (5/12), menangkap Komisari Utama PT Tri Abadi Mandiri, Lihan (35), karena diduga kuat menipu dana sebesar Rp 817 miliar yang dihimpun dari masyarakat berkedok investasi.

Dana sebesar itu di himpun Lihan sejak tahun 2001 hingga pertengahan 2009, belakangan bisnis yang dikembangkannya mengalami kemacetan, seiring tersendatnya pembayaraan fee atas investasi dan pengembalian dana yang dihimpunnya dari 3.475 pemodal.
Dalam keterangan Persnya, Kepala Kepolisian Daerah Kalsel Brigjend Untung bersama Kepala Kejaksaan Tinggi Kalsel Abdul Taufieq, Senin (7/12), mengatakan, berdasarkan hasil penyelidikan sementara, tersangka terbukti melakukan penipuan, pencucian uang, penggelapan, serta pelanggaran undang-undang perbankan Syariah.
Polisi juga tengah mengembangkan kasus yang menimpa pemilik Intan Putri Malu itu, bekerjasama dengan, Bank Indonesia dan PPATK.

“Kerjasama ini sebagai langkah kepolisian dan kejaksaan guna mengungkap kemana saja aliran dana yang mengalir serta apa yang melatarbelakangi motif tersangka menjalankan bisnis dengan mengumpulkan dana yang dihimpun dari masyarakat itu,” ujar Kapolda.
Kepolisian bersama kejaksaan juga menduga kuat Lihan melanggar undang-undang perbankan yakni menghimpun dana masyarakat tanpa izin dari Menteri Keuangan.
Dalam praktiknya menjalankan bisnisnya, beberapa kolektor (pengumpul dana) melakukan penggalangan dana masyarakat berkedok bisnis intan dengan perjanjian pembagian keuntungan (bagi hasil) 60:40 per bulan.

Berlatarbelakang bisnis itu pula, Lihan yang dikenal sebagai Ustadz berdalih memiliki usaha di berbagai daerah termasuk di luar negeri. Namun belakangan, informasi yang dihimpun kepolisian, usaha yang dimiliki Lihan ternyata hanya dijadikan dalih pencucian uang. Lihan juga diduga kuat menipu masyarakat dengan berdalih memiliki  10.000 karat berlian dan surat berharga.

Hingga Selasa siang, Lihan masih mendekam di sel Reskrim Polda Kalsel, Lihan sendiri telah menunjuk Masdari Tasmin, SH MH sebagai pengacara dirinya. “Saya akan berusaha mengembalikan uang nasabah, sedangkan masalah penahanan, akan saya diserahkan kepada pengacara” ujar Lihan saat dikawal petugas memasuki ruang Reskrim Polda Kalsel.

Tragedi Investasi LIHAN

Betapa banyak masyarakat yang merindukan ber-Investasi atas dunia ini, …

[Prolog 2001 -2008] c

Salihan, atau populer dengan nama Ustadz Lihan, awalnya disebut-sebut sebagai pengusaha intan yang sukses di Kalsel. Setelah sukses secara lokal di kotamadya Banjarbaru [Kalsel], dia mendirikan perusahan “konsultan bisnis dan investasi” – PT. Tri Abadi Mandiri di Cinere, Limo, Depok.

Lihan mulai menjalankan usahanya pada 2001. Sekitar bulan Juni 2008, ia menjadi sorotan media se-Indonesia. Bermula atas kepemilikannya pada sebuah intan “Putri Malu” yang berharga sekitar 3 Milyar [196 karat]. “Konon”, jika sudah dipotong sempurna, harga intan tersebut bisa 250 milyar.

Sejak saat itu, bak bola salju, berbagai media terus memberitakan sosoknya. Bahkan Komunitas TDA (Tangan Di Atas) juga turut memberikan significant point untuknya.
____

Milad 3 TDA (28 Februari s/d 01 Maret 2009)
Festival Entrepreneur Indonesia 2009
Profil Pembicara Milad 3 TDA – Ustadz Lihan
http://tangandiatas.com/?ar_id=Mjkx
TalkShow dengan tema
“Sukses dalam Hidup dan Berbisnis dengan Power of giving”.
http://tdamilad3.blogspot.com/2009/02/profil-pembicara-milad-3-tda-ustadz.html


Ustadz Lihan dilahirkan di Liang Anggang 9 Juli 1974.
Mantan guru madrasah dan tukang ojek
yg sekarang menjadi
-Komisaris Utama PT Tri Abadi Mandiri,
-Komisaris Utama CV/PT Ira Visual Multimedia,
-Komisaris Utama PT Lima Maha Karya ,
-Komisaris Utama PT Alhamdulillah,
-Komisaris Utama PT Smart Karya Utama,
-Komisaris Utama PT Lihan Jaya Sarana,
-Komisaris Utama PT Lihan Jaya Semesta,
-Komisaris Utama PT Rumputindo Maju Bersama.
Berkantor di Jakarta dan Banjarmasin.
Penyuka makanan manis dan tak suka sayur.
Alhamdulillah juga memiliki kantor di China.
Sekarang usaha ustadz sudah tersebar di beberapa kota di Indonesia di antaranya Banjarmasin, Balikpapan, Tarakan, Berau, Sumbawa, Mataram, Madiun, Gresik, Pekalongan, Jember, Magetan Samarinda, Surabaya, Malang, Solo, Jogjakarta, Semarang, Bogor, Bandung dan Lampung.

Saat ini Insya Allah ustadz ada rencana mendirikan Stasiun TV Islami, Pembuatan Film bersama Hanung Bramantyo, Pertambangan Intan dan pendirian Maskapai Penerbangan. Ustadz Lihan bercita-cita mendirikan usaha yang bisa merekrut ribuan pekerja sehingga bisa membantu pemerintah mengurangi pengangguran.

___

Juga, contoh kutipan lainnya dari salah satu Blog :
http://yunizar84.blogspot.com/2009/03/bagaimana-jika-ustadz-lihan-membeli.html


Ustadz Lihan, pengusaha asal Cindai Alus Martapura itu yang merupakan alumni Pondok Darul Hijrah Putra, pernah mengajar di Pondok Darul Hijrah Putri, mendirikan majalah santriwati “Akram” yang kini sudah tidak terbit lagi, dan rumahnya berada tepat di belakang gedung Ummi Hani Pondok Darul Hijrah Putri itu dapat dinilai sebagai pengusaha muda tersukes di Indonesia. Limpahan rezeki yang didapat beliau dari berbagai usaha itu benar-benar membuat beliau menjadi seseorang yang terpandang di banua kita.

Berawal dari profesi sebagai seorang Ustadz di Pondok Darul Hijrah Putra dan Putri, gebrakannya berlanjut kepada bisnis intan yang akhirnya menjadi kerajaan bisnis maha-megah. Banyak perusahaan yang berdiri atas namanya, seperti Operational Center TV Kabel Ira Vision, Property Dealer Kota Santri dan masih banyak lagi yang kesemuanya berada dalam perusahaan induk PT. Tri Abadi Mandiri. Bahkan, kini beliau mencoba bergerak di bisnis komunikasi dengan produk provider internet Han n’ Ruf yang disinyalir bakal menyaingi Speedy. Beliau juga banyak mengadakan even-even besar dengan dipromotori oleh PT. Tri Abadi Mandiri, seperti penyaluran bantuan bagi Dhu’afa, dan mega konser Idul Fitri yang diisi artis-artis besar nasional seperti Gigi, Ungu, Rossa di Jakarta beberapa waktu lalu. Ustadz Lihan juga sempat membuat kehebohan, seperti membeli intan terbesar yang pernah ditemukan seharga lebih 1 miliyar rupiah, mengalahkan tawaran miliarder-miliarder luar negeri yang juga berminat membelinya (bukan kehebohan seperti menikahi artis kayak Aman Jagau). Terakhir, beliau berhasil membuat rekor MURI dengan mengadakan even Chatting Terbanyak yang diikuti oleh ribuan orang di Banjarbaru beberapa waktu lalu sebagai acara Launching produk Han n’ Ruf-nya.

Kesuksesan beliau juga dibarengi dengan keinginan berbagi. Sejauh ini telah terbit dua buku yang mengangkat Ustadz Lihan. Pertama, terbit di awal 2008 sebuah buku berjudul “Lihan, Ustadz Pengusaha” yang nampaknya digagas oleh Ustadz Lihan sendiri. Buku ini memaparkan riwayat hidup Ustadz Lihan yang tentu saja menyebut Darul Hijrah sebagai salah satu pelabuhan pendidikan beliau. Yang terpenting, tentu (sedikit) diungkapkan rahasia bisnis Ustadz Lihan. Buku ini ditulis oleh satu tim penulis di bawah arahan Ustadz Darmawan yang juga pernah mengajar di Pondok Darul Hijrah. Sedangkan buku kedua berjudul “Ustadz Pun Bisa Menjadi Pengusaha B(e)rilian”, tulisan Ahmad Bahar. Ditambah lagi, Ustadz Lihan juga sering diminta memberikan materi dalam berbagai ajang seminar, kuliah, dan lain sebagainya yang tentu saja berisi materi perbisnisan dengan artikulasi keislaman. Hal ini menjadikan Ustadz Lihan, sang Ustadz Pengusaha, terkemuka tidak hanya dalam hal bisnis namun juga dalam usaha menumbuhkan bibit pengusaha di kalangan generasi muda dengan jiwa keislaman, tidak hanya di Indonesia namun juga di luar negeri (konon Ustadz Lihan sering berangkat ke luar negeri dengan tujuan selain membangun jaringan bisnis, juga memberikan wejangan-wejangan bisnis).

Fenomena Ustadz Lihan makin menyeruak karena dalam usaha menjalankan perusahaan, beliau memakai teknik investasi, yakni menerima dana investasi dari siapa saja untuk kemudian dijalankan dalam bisnis beliau yang keuntungannya dibagi antara beliau sendiri dengan para investor. Teknik ini tentu sangat menguntungkan secara ekonomi bagi banyak orang yang menginvestasikan dana kepada beliau. Hal ini dan sekian banyak usaha beliau dalam membangun daerah membuat beliau mendapatkan anugerah dari Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) sebagai pengusaha yang berhasil membangun daerah.
“Berita/kutipan/informasi “puja-puji” serupa di atas sangat banyak beredar di Media (cetak dan internet) utamanya pada periode Agustus 2008 s/d Agustus 2009.
Para Investor dan Penyanjung yang malang …, mereka telah dijerumuskan oleh provokasi media [televisi, koran, majalah, internet/blog, buku, seminar, talkshow, dll., yang secara tidak bertanggungjawab dan dangkal telah memberi rating sangat tinggi ke LIHAN.
Untuk melihat banyaknya pujian terhadap LIHAN, coba ketik di Google : Lihan sukses. Lihatlah resultnya. Bukan main.
Tetapi, …, seiring dengan berjalan waktu, kekisruhan bisnis investasi yang dikelolanya mulai muncul ke permukaan, berbagai pertanyaan seputar usaha Lihan mulai bermunculan.
___________________________

[Agustus 2008 s/d Agustus 2009]

Buku yang ditulis oleh Ahmad Bahar dengan judul “Ustadz Pun Bisa Jadi Pengusaha Brilian” yang berisi profil Ustad Lihan laris manis dipasaran. Dalam dua hari setelah diterbitkan pada tanggal 9 Agustus 2008 di Gramedia Matraman, 2500 buku telah habis terjual.
Dalam masa setahun sejak terbitnya buku tersebut, Lihan betul-betul meng-expose dirinya, baik atas effort pribadi secara langsung maupun atas manfaat yang secara gratis diberikan oleh berbagai Media dan link pendukung fanatiknya (kolektor).
Jumat, 6 Februari 2009, dengan senyum khasnya Ustadz Lihan bertandang kekediaman Bupati Banjar HG. Khairul Saleh dan disambut langsung oleh Bupati Banjar, untuk menyerahkan bantuan bagi korban banjir kabupaten Banjar berupa 5 ton beras yang disaksikan langsung oleh Direktur PT. Lihan Jaya Sarana, Darmawan Jaya Setiawan.
Jumat, 24 April 2009, kesepakatan untuk menyumbang 30 ekor sapi untuk penyelenggaraan kurban Idul Adha 1430H [meskipun jarak waktunya masih lama, yakni Jum’at, 27 November 2009] dibuat oleh Lihan bersama Pemimpin Umum Banjarmasin Post Group, HG Rusdi Effendi di kediaman Lihan, Cindai Alus Banjar. Banjarmasin Post Group bakal mengorbankan 38 ekor sapi untuk hari raya korban tersebut. Jumlah tersebut disesuaikan dengan usia koran terbesar di Kalsel ini. Menurut Lihan, kemungkinan saat penyembelihan hewan korban sumbangannya tersebut, dirinya tidak hadir karena bersama istrinya akan menunaikan ibadah haji. Sumbangannya berupa hewan korban tersebut merupakan kali ketiga yang diberikan untuk Bpost Group. Pada kali pertama, Lihan menyumbang dua ekor sapi, kali kedua empat ekor sapi dan yang ketiga ini, 30 ekor. Dalam kesempatan itu, Gusti Rusdi juga mendapat kesempatan memegang intan “putri malu” yang sempat dihebohkan beberapa waktu yang lalu. Selain itu, Mantan ketua KONI Kalsel ini juga diberi kesempatan meninjau Gedung serbaguna Putri Malu yang rencananya keuntungannya digunakan untuk kepentingan majelis taklim yang bakal dibentuknya.
[September 2009 – Januari 2010]
Sejak pagi di hari Sabtu, 26 September 2010, ribuan orang berdatangan dan berkumpul di rumah Lihan di Kampung Batung, Desa Cindai Alus, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar, yang persis berada di belakang pondok pesantren putri Darul Hijrah. Mereka adalah investor yang berasal dari Banjarbaru, Martapura, dan berbagai daerah lainnya di Provinsi Kalsel, bertujuan menanyakan secara langsung penyebab pembagian keuntungan yang pembayarannya terlambat dua bulan [Agustus & September 2009].
Sesuai perjanjian yang ditulis di atas kertas bermaterai Rp 6.000 itu, keuntungan bisnis ditentukan melalui sistem bagi hasil. Lihan sebagai pihak pertama menerima 60 persen dan investor sebagai pihak kedua mendapatkan 40 persen dari keuntungan. Kedua belah pihak sepakat mengadakan perjanjian bisnis/kerja di mana investor menyerahkan sejumlah uang yang tidak terbatas besarnya untuk dijadikan modal bisnis “Intan”.
Walhasil, ribuan orang tersebut bubar secara tertib di siang harinya, setelah mendapatkan penjelasan dan komitmen dari Lihan.
“Semua modal investasi akan saya kembalikan kepada investor. Ini seiring dengan kontrak saya dengan pihak pembeli [Intan] sejak 15 Oktober 2008 akan berakhir pada 15 Oktober 2009,” ujar Lihan.
Terjadinya keterlambatan itu, kata Lihan, disebabkan adanya keterlambatan pembayaran dari pihak pembeli [intan] sejak Agustus 2009. Pihaknya, kata Lihan, terus berkoordinasi dengan pembelinya. Akhirnya, pihak pembeli berjanji melakukan pembayaran pada minggu keempat Oktober 2009. “Kesepakatan itu diperkuat dengan jaminan dari pihak pembeli yang sudah diserahkan kepada saya,” ujarnya.
Tunggu punya tunggu, uang bagi hasil dana tertunda yang dijanjikan akan dibayar pada Oktober 2009 tetap tidak terealisasi. Sepanjang Oktober-November 2009, banyak diberitakan Investor stress, masuk rumah sakit, bahkan ada yang meninggal.
Minggu, 6 Desember 2009, dilakukan penahanan atas Lihan oleh Ditreskrim Polda Kalsel. Senin pagi, 7 Desember 2009, Kapolda Kalsel Brigjen Pol Untung S Rajab SH bersama dengan Kepala Kejaksaan Tinggi Kalsel Abdul Taufiq dan perwakilan dari Bank Indonesia mengadakan jumpa pers di ruang Rupatama Polda Kalsel.
“Sebelum saya memberikan keterangan terkait investasi Lihan, saya minta kepada masyarakat jangan sampai berasumsi bahwa dengan tertangkapnya Lihan polisi dianggap menghambat pembayaran atau pengembalian uang nasabah,” tegas Kapolda Kalsel. Menurut beliau, justru sebaliknya, karena dengan ditangkapnya Lihan bertujuan untuk melindungi masyarakat dan dana investasi milik para pemodal di tempat Lihan. “Makin diulur-ulur kemungkinan aset-aset milik Lihan akan terus menyusut. Makanya untuk mempertahankan aset-aset tersebut polisi mengambil tindakan dengan mengamankan dan menyita aset-aset itu,” ujarnya.
Dari hasil penyelidikan polisi, terungkap bahwa ada sekitar 3.774 orang nasabah yang menanamkan modalnya ke tempat Lihan. “Uang yang terkumpul dari seluruh nasabah berjumlah sekitar Rp 817 miliar.”
Kapolda menuturkan bahwa uang dan jumlah para nasabah Lihan sangat fantastis. “Polisi sudah menduga kalau usaha yang dijalankan Lihan ini tidak benar. Artinya, uang yang masuk ke tempat Lihan tidak sesuai dengan uang hasil keuntungan dari usaha yang dijalankanya. Masa, para nasabah yang menanamkan uangnya dikasih keuntungan 60 persen dan Lihan memperoleh 40 persen dari jumlah uang yang diinvestasikan. Dan usaha ini dijalankannya sejak tahun 2001 lalu,” terangnya.
Dari hasil penyelidikan tim, berbagai kegiatan usaha yang dikelola PT Tri Abadi Mandiri, di antaranya bisnis intan hingga ke manca negara itu ternyata fiktif. Sedangkan sejumlah usaha yang dibangun di berbagai bidang diduga merupakan upaya untuk melakukan pencucian uang.
Jajaran penyidik Direktorat Reserse Kriminal (Ditreskrim) Polda Kalsel terus bergerak mengamankan aset yang diduga milik Lihan, pengelola investasi asal Cindaialus, Martapura, Kabupaten Banjar. Sedang pemeriksaan dihentikan sementara karena tersangka pengumpulan dana masyarakat tersebut sakit. Lihan pingsan saat memeluk tubuh ibunya, Hajah Siti Aisyah, yang meninggal Selasa (15/12) pagi. “Kami telah menyita 12 saham Lihan di beberapa perusahan,” kata Wakil Direktur Reskrim AKBP Kliment Dwi Kurjanto, Rabu (16/12).

 

 

 

Kanit II Haki Sat II Ekonomi Khusus Kompol Erry S memaparkan perusahaan tersebut adalah :
. PT Lihan Jaya Semesta,
. PT Lihan Jaya Sarana,
. CV Mawar,
. CV Runaway Berkah Utama,
. CV Lihan Smart Prima,
. PT Alhamdulillan,
. PT Handruf Telematika,
. PT Ira Visual Multimedia,
. PT Lima Maha Karya,
. CV Lihan Jaya Kubersama,
. PT Tri Abadi Mandiri, dan
. PT Ajal (yang ini belum dapat dipastikan kepemilikannya).
Disinggung mengenai nilai saham di setiap perusahaan, menurut Erry, relatif kecil yakni sekitar Rp 200 juta. Dana terbesar yang ditanamkan Lihan cuma ada di maskapai penerbangan Merpati yakni Rp 15 miliar. Dengan Merpati, Lihan hanya melakukan kerja sama operasional (KSO). “Di sini Lihan mendapatkan bagi hasil Rp 350 juta per bulan,” tambah Erry.
Salah satu aset Lihan di Jakarta adalah rumah di Jalan Ciragil I No 29 Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Hunian megah seharga Rp 4,2 miliar itu diketahui ditempati oleh Gladys, perempuan 23 tahun asal Cirebon. “Saya no comment. Tanya saja ke pengacara saya,” elak Lihan ketika dikonfirmasi tentang hubungannya dengan Gladys, saat dia akan diperiksa penyidik Polda Kalsel, Sabtu (16/1/2010) pukul 11.00 Wita.
___________________________

 
Epilog [February 2010]

Penyidikan masih terus berlanjut. Gerakan menuntut pengembalian dana investasi juga terus bergulir, baik yang secara langsung maupun di facebook.
Apa sebenarnya yang salah dalam peristiwa ini?
Yang pertama tentunya kesalahan dari LIHAN pribadi. Kemampuan manajerial yang terbatas, over-selling dan over confidence (ini virus berbahaya yang ditularkan oleh para Motivator yang menjamur sekarang ini), dan tidak adanya manajemen keuangan Global Corporate (konglomerasi). Soal penipuan dan money laundring masih harus kita tunggu hasil penyidikan Polda. Utamanya di 2008 dan di 2009, uang dari Investor mengalir dengan deras, sehingga di saat itu ‘tampak’ sangat berlebih untuk membayar bagi hasil Investor sebelumnya dan masih berlebih untuk dipakai Investasi riil lainnya, bahkan untuk memberikan bantuan/donasi Infaq ke banyak pihak yang meminta.
Yang kedua adalah blow-up media (cetak maupun internet) kepada Lihan. Harusnya media sedikit lebih cerdas dalam menyajikan informasi, termasuk para blogger dan miliser. Yang terjadi saat ini, tidak ada filter dan analisa sama sekali. Yang ada adalah secepat mungkin sajikan beritanya.
Yang ketiga, blow-up oleh Kolektor dan partisan yang mengambil keuntungan dari faktor 1 dan 2 di atas.
Yang keempat, Investor yang sangat awam, dan hanya memasang kacamata kuda. Pokoknya untung besar. Bagi hasil 10% per bulan (yang tidak masuk akal untuk diterapkan di Real Business) harusnya sudah menjadi warning yang kasat mata. 5% pun sudah berat untuk pengembaliannya. Terjadilah skema arisan berantai, dimana yang masuk rombongan awal akan ikut mendulang untung, yang sesudahnya akan defisit total (modal pun tak kembali).
Kelima, tidak adanya perlindungan pemerintah, dan tidak adanya pendidikan/sosialisasi ke masyarakat awam untuk Investasi.
Faktor-faktor lainnya, khusus untuk kasus ini, adalah tabir agama dibalik hedonisme. Mengharapkan balasan langsung di dunia dari ZIS yang dikeluarkan, mungkin salah satunya. Sampai ada formula dan hitung-hitungannya segala. Infaq segini, akan menghasilkan balasan segini, dst.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: