PT WONG LIMO

PT Wong Limo Gagal Bayar, Dana Nasabah Raib Konsumen Dirugikan

Konsumen hendaknya harus berhati-hati jika ingin memilih perusahaan yang menawarkan jasa investasi keuangan, terlebih bila menjanjikan mendapatkan profit keuntungan yang besar hanya dalam waktu singkat.
Masih segar dalam ingatan kita banyak nasabah mengalami kerugian dari usaha investasi bodong seperti Koperasi Langit Biru, PT Gemilang Reksa Dana yang memberikan iming-iming laba yang besar, ternyata akhirnya merugikan konsumen.
Sekitar 120.000 orang anggota Koperasi Langit Biru telah menjadi korban dengan kerugian uang nasabah sekitar Rp 6 triliun sejak Januari-Oktober 2011 lalu. Para investor menanamkan modalnya dengan nilai berbeda, mulai dari paket senilai Rp. 385.000 hingga Rp.9.500.000. Para investor dijanjikan bonus serta keuntungan besar dengan nilai hingga mencapai 28 hingga 30 persen yang diberikan secara bertahap.

Bukan itu saja bagi korbannya pengurus Koperasi Langit Biru memberikan iming-iming uang tunai sebesar Rp1.400.000 plus paket sembako senilai Rp350.000 setiap bulannya bila menanam paket tunai sebesar Rp10.000.000. Pada awal usahanya, baru sedikit investor yang kebagian atau mendapatkan keuntungan sesuai dengan jadwal jatuh tempo investasi, namun ketika jumlah korban semakin banyak dan jumlah paket investasi yang jatuh tempo semakin meningkat, pembayaran keuntungan atau bonus pun mulai macat dan pada akhir tahun 2011 pemilik PT Trasindo Jaya Komara (Koperasi Langit Biru), Jaya Komara mulai sulit dihubungi dan kemudian menghilang tanpa jejak.
Begitu pula PT Gemilang Reksa Jaya (GRJ) yang membuka usahanya pada November 2011 melalui websitenya menjanjikan profit investasi bagi calon investornya sebesar 100 persen dari modal yang disetor dalam jangka waktu 100 hari, ternyata hanya janji manis belaka. Pasalnya para investor yang telah menanamkan modalnya pada perusahaan itu selama 100 hari dan telah jatuh tempo ternyata tidak bisa memperoleh sedikitpun profit. Bahkan kantor pusat PT Gemilang Reksa Jaya yang berlokasi di Grand City Depok Blok B. No. 5-6Jawa Barat kini telah tutup. “Boro-boro dapat untung seratus persen, modal saja ludes dibawa kabur,” ujar Sindu salah satu korban kepada IKI bulan Juni lalu.

Peristiwa tertipunya konsumen oleh perusahaan jasa investasi kini terulang kembali. Ribuan nasabah PT Wong Limo (PT WL) yang tersebar di 9 kantor cabang di berbagai daerah seperti Jakarta, Bandung, Padang, Pekalongan, Kerawang, Bekasi, Tasikmalaya dan Cikarang kini mulai resah. Sama seperti http://www.gemilangreksajaya.com, penawaran http://www.wonglimo.com melalui websitenya yang hingga berita ini diturunkan masih dapat diakses sangat menjanjikan sekali membuat calon investor terutama yang berada di daerah mudah terperdaya. Namun meskipun telah banyak nasabah yang kecewa akibat uang yang ditanam di perusahaan itu belum juga kembali ataupun penawaran yang dilakukan perusahaan tersebut diduga penuh dengan tipu muslihat, hingga berita ini diturunkan tidak satupun nasabahnya berani melaporkan nasibnya ke polisi, dengan alasan para petinggi PT Wong Limo menurut para nasabah masih berjanji akan membayarkan kewajibannya kepada nasabah. Para investor tampaknya masih yakin dengan janji-janji manis Komisaris Utama PT WL Teuku Ismail ST yang menyatakan akan mengembalikan uang nasabah dengan cara mencicil sebesar Rp 3 miliar perhari. “Saya akan membayar tiga miliar perhari karena ada rekan saya ada yang akan menalanginya,” ujar Ismail di Jakarta (4/7).

Menurut informasi yang dihimpun IKI, sejak beroperasi bulan Januari 2012 lalu dengan modus sebagai perusahaan pialang berjangka sekitar Rp 111 miliar uang nasabah dari berbagai cabang berhasil diraup PT WL, namun semua dana yang dihimpun kini tidak tahu kemana rimbanya, akibatnya perusahaan tidak dapat melakukan kewajibannya membayar modal serta bonus nasabah yang telah jatuh tempo.
Menurut penuturan perwakilan nasabah PT WL Kantor Cabang Lampung yang mengadukan persoalan macatnya investasi mereka ke Lembaga Perjuangan Hak Konsumen Indonesia (LPHKI) di Jl. Pal Putih Jakarta tanggal 1 Juli 2012, pada saat nasabah menanamkan investasi bulan Januari hingga Maret 2012 pengembalian investasi berikut bonus masih berjalan dengan baik, namun sejak bulan April hingga Mei pengembalian dana investor yang sudah jatuh tempo berikut bunga maupun bonusnya mulai macat. Para nasabah yang menjadi korban pun mendatangi kantor PT WL Cabang Bandar Lampung yang beralamat di Jl. Ratu Dibalau 193 C Tanjung Senang Bandar Lampung, namun tidak membuahkan hasil, dana nasabah tidak lagi dapat diperoleh. “Sejak April 2012 pengembalian modal berikut bonus dari kantor cabang PT WL di Lampung sudah mulai berhenti,” ujar Sonny Harianja salah satu nasabah yang mengadu ke LPHKI.

Menurutnya para nasabah yang berada di wilayah Provinsi Lampung baik yang di daerah Kota Bandar Lampung, Kabupaten Bandar Jaya, Tanggamus, Lampung Timur dan lain lain telah menyambangi kantor PT WL di Bandar Lampung, namun pihak perusahaan menyatakan belum mendapatkan dropping dana dari Kantor Pusat yang berada di Bandung, Jawa Barat untuk pengembalian modal serta bonus nasabah. Sehubungan dengan banyaknya nasabah yang tidak mendapatkan bonus sesuai dengan janji perusahaan serta tidak adanya kepastian adanya dropping dana dari kantor pusat, akhirnya kantor cabang PT WL di Bandar Lampung pun tutup. Karena tidak adanya informasi lebih lanjut tentang investasi mereka, maka perwakilan nasabahpun menanyakan persoalan mereka ke Kantor Pusat PT WL yang berlokasi di Perkantoran Orange District Blok A 12 no 20 Cibiru Bandung. Namun lagi lagi nasabah gigit jari karena kantor pusat perusahaaan yang menyaru sebagai perusahaan pialang berjangka tersebut telah tutup. Menurut keterangan para nasabah kantor cabang PT WL di Bandar Lampung dan kantor pusat yang di Bandung statusnya kontrak. “Setahu kami aset perusahaan sangat minim, kantor pusat serta kantor cabang Lampung
statusnya kontrak,” kata Wagiman nasabah yang ikut menanamkan modal Rp 30 juta.
Akibat tidak terbayarnya dana nasabah yang telah jatuh tempo setiap harinya seluruh kantor cabang PT WL ramai didatangi para nasabah, namun nasib dana mereka tidak kunjung jelas. Pada tanggal 28 Mei 2012 di Kantor PT WL Cabang Bandung di Ruko Grand Surapati Core Blok AB 32 Bandung, para nasabah yang diwakili Wimpy Aprianto SE AAIJ, Hari Gunawan, Aziz dan Sumanto mengadakan pertemuan dengan pihak perusahaan yang diwakili oleh Direktur Administrasi Yoyo Kustaryo, Manager Kepatuhan Hasan Aqsidiki, dan Kepala Cabang Bandung Yanyan Mulyana dan Tri Herlianto. Hasil pertemuan tersebut memutuskan agar dalam 4 (empat) hari pihak PT WL memberikan kepastian pembayaran dana semua nasabah yang jatuh tempo dengan bentuk uang cash serta adanya transparansi dana nasabah yang dikelola PT WL. Namun hasil pertemuan tersebut ternyata tidak dapat dipenuhi oleh PT WL membuat seluruh nasabah semakin cemas akan nasib dana mereka.

Pada tanggal 31 Mei 2012, Komisaris Utama PT WL Teuku Ismail ST, MOS selaku penanggung jawab perusahaan membuat surat pernyataan bermeterai yang menyanggupi pembayaran kewajibannya kepada para nasabah mulai tanggal 1 Juli 2012 yang juga ditandatangani para perwakilan nasabah, namun begitu tiba waktunya lagi-lagi surat pernyataan itu tidak terealisasi. Kepada majalah IKI, General Manager PT WL Area Bandung II yang membawahi wilayah Lampung dan Padang Harry Wahyudi Agustiono, SH mengakui pihak manajemen PT WL saat ini sedang mengalami masalah, terkait rencana ekspansi usaha perusahaan yang belum terlaksana. Menurutnya sebagian dana perusahaan ada yang tertanam pada investasi tambang namun masih terkendala, sehingga perusahaan saat ini tidak dapat membayarkan kewajiban kepada nasabah. Namun menurutnya direksi saat ini sedang mengupayakan mendapat pinjaman dari pihak lain agar dapat membayarkan kewajiban bagi nasabah. “Pak Ismail selaku komisaris sedang berupaya membayar dana nasabah,” ujar Harry ketika ditemui di rumah dinasnya di Jl. Kawaluyaan XVII Sekejati, Buah Batu Bandung (2/7).

Menurut Harry, karena pengembalian dana nasabah terhenti sejak April 2012, maka pada bulan Juni lalu direksi PT WI telah mengumpulkan sembilan kepala cabang yang tersebar di seluruh Indonesia untuk membicarakan rencana pembayaran dana nasabah. Pada pertemuan tersebut diambil keputusan, pihak perusahaan berupaya mendapatkan dana segar dari pihak ketiga yang akan cair pada awal Juli 2012. Untuk itu dibuatlah rencana atau jadwal pembayaran bagi seluruh nasabah yang akan dibayarkan mulai tanggal 1 Juli hingga 2 Agustus 2012 sesuai dengan surat pernyataan Teuku Ismail tertanggal 31 Mei 2012.

Pada tanggal 2 Juli 2012 tepat hari Senin sesuai jadwal yang dijanjikan, ternyata para nasabah yang investasinya telah jatuh tempo mendatangi Kantor Cabang Bandung, namun ternyata perusahaan ingkar janji tidak dapat membayarkannya. Sang Komisaris Teuku Ismail yang membuat surat pernyataan akan membayar dana pun tidak tampak batang hidungnya di kantor itu. Menurut pihak manajemen Ismail berada di Jakarta dan pembayaran urung dilaksanakan karena seyogianya perusahaan akan mendapatkan kucuran dana segar, namun urung akibat Real Time Gross Settlement (RTGS) perusahaan ditolak. Akibatnya para nasabah asal Bandung serta nasabah dari Lampung dan Padang yang berkumpul di Kantor Cabang Bandung secara bersama-sama berangkat ke Kantor Cabang Jakarta (3/7) dengan maksud untuk bertemu dengan pihak direksi yang saat itu sedang berada di Jakarta.

Keesok harinya di Kantor PT WL Cabang Jakarta yang beralamat di Jl. Pondasi 33 Kampung Ambon, Pulomas Jakarta Timur seluruh direksi termasuk Ismail pun berhasil ‘diamankan’ oleh para nasabah yang sudah mulai kehilangan kesabaran. Di kantor tersebut para nasabah sempat ‘panas’ akibat situasi yang cukup tegang maklum pihak perusahaan dinilai tidak transparan dalam memberikan informasi terkait dana nasabah. Dalam keadaan panik tersebut Ismail tidak kehilangan akal, dia terus berdalih akan membayarkan dana nasabah. “Saya akan meminta pinjaman dana talangan dari rekan bisnis saya agar bisa membayar dana nasabah,” ujarnya. Siang harinya Ismail mengajak para perwakilan nasabah baik yang berasal dari Cabang Jakarta, Bandung, Lampung dan Padang untuk menemui rekannya yang akan membantunya memberikan pinjaman uang sebesar Rp 3 miliar setiap harinya mulai tanggal 5 Juli 2012. Setelah bertemu dengan rekan bisnisnya serta dibuatkan nota kesepakatan pinjam meminjam, malamnya para nasabah bersama jajaran direksi kembali ke Kantor Cabang Bandung. Namun keesok harinya sesuai perusahaan akan mendapat pencairan Rp 3 miliar, ternyata tidak juga menjadi kenyataan. Kini kembali lagi para nasabah menjadi gigit jari. Maksud hati ingin dapat untung besar secara cepat, kini mereka kecewa. Bahkan untuk mengurus agar dana mereka kembali telah mengeluarkan uang yang tidak sedikit serta waktu dan tenaga habis sia-sia.

Salah seorang staf PT WL Kantor Cabang Jakarta bernama Pieter mengakui telah banyak nasabah datang ke kantor ataupun menghubungi kantor melalui telepon yang ingin menanyakan kejelasan nasib dana mereka. Namun dia hanya menyampaikan pesan sesuai dengan instruksi kantor pusat yaitu dana nasabah akan dibayarkan menunggu kiriman dari kantor pusat. Menurutnya pihak kantor cabang saat tidak memiliki dana, karena seluruh dana nasabah yang masuk langsung segera dikirim ke kantor pusat. Bahkan menurutnya Kepala Kantor Cabang Jakarta Bambang juga merangkap sebagai nasabah, karena menyetor dana pribadi yang cukup banyak ke kantor pusat. “Pak Bambang ikut investasi sebesar Rp 2 miliar,” ujar Pieter. Sementara staf lainnya mengatakan akibat ketiadaan uang kas, para karyawan kantor cabang yang berjumlah empat rang hingga saat ini juga belum menerima gaji. “Kami juga priharin dengan kondisi keuangn pewrusahaan, kami saja belum gajian sudah dua bulan,” ujar karyawan yang tidak mau disebutkan namanya. Informasi dari warga sekitar, Kantor PT WL Cabang Jakarta tersebut baru beroperasi sekitar Maret 2012 lalu dengan status kontrak selama 2 tahun.

Kepala Biro Hukum Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan Alfons Samosir SH ketika menerima perwakilian nasabah PT WL asal Lampung di kantornya merasa prihatin maraknya penipuan dengan mengatas namakan perusahan pialang. Menurutnya, PT WL bukanlah perusahaan pialang yang legal, karena perusahaan tersebut tidak terdaftar dan tidak mendapatkan ijin dari Bappebti. “Sejak dua tahun lalu tidak ada perusahaan baru yang mendapatkan ijin dari Bappebti, jadi bila ada yang mengaku perusahaan pialang baru mendapatkan ijin operasional itu adalah perusahaan ilegal,” ujarnya. Ditambahkannya pada perusahaan pialang yang resmi, dana nasabah tidak boleh masuk ke rekening perusahaan ataupun diserahkan kepada pegawai perusahaan, tetapi dimasukkan ke dalam rekening terpisah atau segregeted account yang penggunaaannya harus sepengetahuan oleh nasabah sendiri. “Jadi uang nasabah tidak boleh digunakan oleh perusahaan seenaknya sebelum ada perintah dari nasabah,” jelasnya.

Namun menurutnya, bila ada perusahaan berjangka legal yang merugikan konsumen, maka pihaknya tidak akan segan-segan menindaknya. “Bappebti akan memberikan peringatan maupun sanksi dan bila perlu mencabut ijin operasional perusahaan pialang yang tidak melakukan usaha sesuai dengan ketentuan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku,” kata Alfons Samosir. Tetapi Alfons berjanji, pihaknya akan menyampaikan aduan masyarakat ini kepada pihak berwenang untuk segera ditindaklanjuti. Ke depan dengan kejadian ini menurutnya Bappebti akan lebih banyak lagi melakukan sosialisasi tentang perdagangan berjangka komoditi terutama di daerah-daerah agar masyarakat lebih memahami dan tidak mudah terperdaya oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. “Kami akan pelajari untuk meningkatkan sosialisasi dan edukasi bagi masyarakat,” ujarnya.

Dia juga merasa prihatin dengan sikap masyarakat yang sangat mudah dipengaruhi dengan iming-iming mendapatkan untung yang besar dalam waktu singkat. Bila ada penawaran seperti itu hendaknya segera melakukan pengecekan terhadap legalitas perusahan yang menawarkan investasi tersebut. “Dalam website Bappebti sangat jelas keberadaan perusahan pialang yang legal, masyarakat hendaknya mengecek terlebih dahulu atau menghubungi kantor kami” paparnya.

Sementara Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) atau Jakarta Futues Exchange (JFX) Made Soekarwo ketika dikonfirmasi melalui selularnya mengatakan bahwa PT WL bukanlan perusahaan pialang anggota bursa berjangka. “Kalau anggota bursa biasa perusahaannya menggunakan kata Futures ataupun Berjangka,” kata Made. Dan lagi menurutnya penawaran atau perekrutan nasabah pialang berjangka tidak berjenjang layaknya multi level marketing (MLM) seperti yang dilakukan PT ML. “Penawaran perdagangan berjangka dilakukan secara transparan dan lebih menekankan kehati-hatian dalam berinvestasi karena memiliki risiko serta adanya edukasi sebelum bertransaksi dengan tenaga marketing yang profesional,” tambahnya. Made Soekarwo berharap agar masyarakat jangan mudah terperdaya dengan penawaran yang belum tentu kebenarannya.

Sekjen LPHKI Hobbin SE mengatakan tindakan PT WL yang menawarkan investasi dengan mengaku perusahaan pialang dan ternyata belum mendapatkan ijin dari Bappebti adalah suatu tindakan penipuan. Menurutnya aparat terkait cepat menanggapi kasus-kasus seperti ini. “Mestinya pemerintah dan aparat kepolisian tanggap merespon persoalan-persoalan yang dialami oleh masyarakat konsumen, sehingga tidak terjadi lagi korban-korban lainnya. Pemerintah mestinya belajar dari kasus Langit Biru yang telah banyak merugikan masyarakat,” ujarnya. Sekarang yang terpenting menurut Hobbin, bagaimana upaya agar dana nasabah dapat segera dikembalikan. “Pemerintah semestinya segera mengambil langkah-langkah terbaik agar dana nasabah segera dibayarkan,” katanya. (Tim)

PNS Ditipu Direktur Wong Limo

Padang Ekspres • Rabu, 26/09/2012 11:50 WIB • • 230 klik

M Yamin, Padek—Merasa ditipu dalam sebuah transaksi beli motor, seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) bernama Djustri Hasni, 50, melapor ke Polresta Padang, kemarin (25/9). Warga Kompleks Taruko Permai I WW/5 RT 05 RW 10 itu melaporkan Fauzan Azima Direktur PT Wong Limo cabang Padang  beralamat di  Parakkarakah dengan tuduhan kasus penipuan pembelian motor.

Menurut keterangan Djustri Hasni di ruangan SPK, kejadian bermula ketika ia membeli motor kepada Fauzan Azima pada bulan April lalu di  kantor PT Wong Limo di Parakkarakah. Dalam transaksi tersebut ia menyerahkan uang tunai Rp 8.034.000 kepada Fauzan untuk pembelian satu unit motor. Dalam transaksi jual beli tersebut, motor yang dibeli itu akan diserahkan dalam waktu tenggat satu bulan.

Namun ketika waktu satu bulan tersebut telah habis, Fauzan belum juga memberikan motor yang dijanjikan. “Janjinya dalam waktu satu bulan sesudah transaksi motor akan diberikan kepada saya, namun ketika waktu tersebut tiba, motor belum juga saya dapatkan,” ujar perempuan kelahairan tahun 1962 ini.

Meski demikian, Djustri Husni masih tetap sabar. Namun ketika terlapor ditemui dan ditanyakan masalah motor tersebut, Fauzan mengelak dengan berbagai alasan. “Hingga sudah lewat tiga bulan dari waktu tenggat motor itu belum jua didapatkan,” ujarnya.

Kanit SPKT Unit II Polresta Padang Sugeng Riyadi mengatakan,  laporan dari Djustri Hasni telah diterima di SPKT Polresta Padang dengan nomor laporan LP / 1557 / K / IX / SPK Unit II dan akan diproses lebih lanjut. (w)

[ Red/Administrator ]

 

 

Wong Limo

by Imam Syamsudin, S.S and Team Admin at 4:15 AM
Invetasi Wong Limo | Khabar Terbaru Wong Limo

Apakah Wong Limo selalu membayar Investornya? Untuk ini silahkan para investor memberikan testimoninya disini. Semoga ini bisa menjawab segala rumor yang ada di luar. Yang jelas fakta harus selalu diungkap supaya investor lebih tahu akan kondisi terbaru Wong Limo.

Wong Limo sebuah investasi yang berdiri sejak beberapa bulan yang lalu. Sekitar 2.5 bulan yang lalu. Namun penulis membaca salah satu website dan Salah Satu forum investasi yang isinya sebagai berikut:

Agung Nugroho
dekarang WONG LIMO,,,dah ga di bayar…yg lain nyusul

Sri Maryatin
SCAM ALIAS BANGKRUT,PENIPUAN
Kemarin jam 2:02

Zhie Aja Dech
KAPAN WONG LIMO MAU BAYAR NSABAH BULAN MARET SAMPAI BULAN 30 APRIL , ? SOALNYA UNG YANG KITA PAKAI INVEST ADALAH UANG PINJAMAN… MHON PAK TEUKU ISMAIL UNTUK BISA MENJAWABNYA…..KARENA KITA SUDAH RFESAH DAN GALAU NEe

22 Mei pukul 19:44
Francesco TiTto Ti
Ap benar program otomotif udah di ubah di bekasi????jwb

20 Mei pukul 0:16
Awan Intermezzo
Misi agan2 semua. Ane mau jual paket inves wong limo. Senilai 56jt. Br 2bln, Bth dana Buat DP RUMAH.. Minat Hub 021 94037591.

5 · 17 Mei pukul 19:06
Awan Intermezzo
Misi agan2 semua. Ane mau jual paket inves wong limo. Senilai 56jt. Br 2bln, Bth dana Buat DP RUMAH.. Minat Hub 021 94037591.
17 Mei pukul 19:05

Awan Intermezzo
Apakah benar Wong Limo ada audit in/external dari BI. Yg mengakibatkan keterlambatan pencairan..

16 Mei pukul 21:21
Awan Intermezzo
Apakah benar Wong Limo ada audit in/external dari BI. Yg mengakibatkan keterlambatan pencairan..
16 Mei pukul 21:20

Paku Buana
Brengsek…profit di mundurkan… setiap kebijakan belakangan ini cenderung lebih mengorbankan/merugikan nasabah… mulai ada indikasi buruk dan tak sehat… :((

11 · 16 Mei pukul 16:42
Sri Maryatin
wonglimo udah berubah jadi wongedan nih….profit plus dinar sampai tgl.15 mei yg seharusnya di bayar tgl.30 april ternyata di undur lagi…dan sudah merubah2 permainan sepertinya sudah indikasi 70% SCAM seperti pendahulunya mitrosgroup,A1,Dressel,speedline ………………….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: